Samar-samar telingaku mendengar nama pembantuku dipanggil. Tapi tak ada sahutan, dan panggilan itu terus menggema. Cepat-cepat kumasuki ruang utama tempat ibuku berteriak memanggil.
Wajahnya tampak begitu kesal karena panggilannya tak diindahkan. Segera kutanyakan apa maunya. Sambil menggerutu ibuku meminta baju rumahnya untuk dibawa masuk dalam kamar. Kuambil bajunya dan kuserahkan padanya. Ibuku berbalik masuk kamarnya masih dengan wajah kesal.
Sementara itu di ruang belakang, pembantu ibuku bertanya-tanya, mengapa ibuku selalu memarahinya. Kutenangkan dirinya yang merasa sedih.
Mengapa ibuku tak sabaran? Tentu si mbak perlu waktu untuk dapat mendengar panggilan ibuku mengingat rumah kami yang cukup besar, sehingga perlu waktu sedikit lebih lama untuk merespon permintaannya.
Andai saja ibuku lebih sabar, tentu si mbak akan lebih kerasan tingga dan bekerja di rumah kami.